Rabu, 16 Januari 2008

Mental temPe

Riuh sekali pembahasan melambungnya harga kedelai yang berdampak pada hilangnya tahu dan tempe di masyarakat. Sementara para pengusaha tahu tempe bereaksi dengan berdemo di depan istana negara, seorang pedagang gorengan memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri (Kompas hari ini). Kenaikan harga kedelai dan minyak tanah disertai kelangkangan adalah masalah yang sama dihadapi oleh banyak orang. Tapi kenapa reaksi yang mucul berbeda?. Penyiar radio RRI bilang, penting bagi semua untuk tetap OPTIMIS.

Teringat bahasan Kesehatan Mental mengenai Optimisme. Teringat pada learned helplessness yaitu kondisi ketika organisme/ individu belajar bahwa tidak ada kaitan antara perilaku dan reinforcement (penguatan). Dalam kasus tersebut, pedagang gorengan memandang bahwa tidak ada gunanya melanjutkan hidup, toh apapun yang ia lakukan sama saja ia terus saja merugi. Tidak ada penguatan (reinforcement) misalnya apabila ia bekerja lebih keras menjual gorengan, ia mendapatkan keuntungan. Kondisi Pak Slamet setiap harinya, ia mengeluarkan modal 50.000, kembali hanya 35.000, sementara ia harus menafkahi istri dan 4 orang anak.

Munculnya learned helplessness diakibatkan gaya eksplanatori (explanatory style) yang internal (kerugian diakibatkan ketidakmampuannya berjualan), Stabil (kondisi merugi akan terjadi selama-lamanya), global (kondisi tersebut akan mempengaruhi seluruh hidupnya dan ia tak akan mampu menafkahi keluarganya). Sementara para pengusaha yang berdemo dan pedagang gorengan lain yang terus berusaha menjelaskan fenomena tersebut secara eksternal (kerugian yang mucul adalah akibat dari kenaikan harga dan ketidakmampuan pemerintah menyediakan stok kedelai), transient (harga akan segera stabil kembali), spesifik (kenaikan harga hanya akan mempengaruhi produksi tahu tempe, tidak mempengaruhi keseluruhan harga atau hidup para pengusaha secara keseluruhan). Gaya menerangkan yang optimis tersebut membuat mereka tetap berusaha dengan berdemo, meski untuk sementara mereka menutup usahanya hingga harga kembali stabil.

Bagaimana cara mengatasinya?. Meski sudah terlambat (secara udah terlanjur bunuh diri), setidaknya ini jadi pelajaran bahwa lain kali perlu dilakukan Attributional Retraining misalnya sebagai berikut:
Adversity: Sudah berjualan capek-capek tidak untung malah rugi
Beliefs: Tidak ada gunanya berjualan lagi, aku tidak akan bisa menafkahi keluarga.
Consequent: mood berubah dari merasa oke menjadi depresi
Disputation: Evidence (selama ini sebelum harga melambung, berjualan gorengan menghasilkan untung); Alternatives (Mungkin harga akan segera turun); Implications (meskipun rugi jualan gorengan, aku masih bisa usaha lain, jadi kuli bangunan, dll); Usefulness (Tidak ada gunanya berpikir bahwa ini akibat dari ketidakmampuan diri, lebih baik berpikir bahwa ini hanya sementara dan segalanya bakalan oke lagi).
Energisation: Aku merasa lebih baik (naik dari skala 1 ke 3 dari 10 point skala depresi).

Memang sie idealnya semua orang nggak perlu ngantri minyak tanah, semua nggak rugi gara-gara harga kedelai, semua hidup bahagia, keadilan dimana-mana. Tapi masa iya mau nuntut-nuntut dan meratap terus menerus. Hidup musti dilanjutkan dan perlu untuk optimis memandang masa depan. Salut buat orang-orang yang hidup susah tapi masih semangat (optimis) dan terus berjuang!. Subhanallah, semoga Allah Memudahkan (amin).

"Fainna ma`al usri yusro (Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan)
Inna ma`al usri yusro(sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan
)"---QS Alam Nasyrah 5-6.

Tidak ada komentar: