Penelitian Lamb & Lee (entah tahun berapa, tidak dicantumkan dalam jurnalnya, tapi yang jelas di atas tahun 2000) menemukan kesimpulan bahwa orang yang menikah memiliki level depresi yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan dewasa muda yang tidak menikah. Namun pernikahan tidak mengurangi level depresi apabila sebelumnya didahului dengan kohabitasi (kumpul kebo). Berkurangnya level depresi tersebut salah satunya merupakan akibat kondisi financial; tingkat pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan hidup sendiri. Masih belum diketahui kenapa kohabitasi mengurangi manfaat pernikahan (berminat meneliti?. Atau mau meneliti ulang, jangan2 kohabitasi bikin nggak depresi?).
Kalau mau baca versi lengkapnya, silahkan cari di: http://www.bgsu.edu/organizations/cfdr/main.html
Hasil penelitian itu membuatku makin paham kenapa Allah berfirman:“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (QS17: 32). Dalam Authentic Happiness-nya Seligman dikatakan bahwa untuk menciptakan perasaan positif (kebahagiaan dan well-being) yang autentik, kita musti menghindari jalan pintas imajiner misalnya: narkotika, berbelanja, seks tanpa cinta, televisi, dsb. Mungkin karena kohabitasi adalah salah satu dari jalan pintas imajiner, maka ia tidak menimbulkan kebahagiaan yang autentik, maupun tidak mengurangi depresi. Wallahu`alam^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar