Postingan

Manusia cuma bisa berencana

"Allah gives answer in 3 ways.. Allah say YES and gives you what you want. Allah Says no and gives you something better. Allah says wait and gives you the best". Sering membaca atau mendengar kalimat di atas?. Klasik memang, tapi tetap menghibur di kala aku harus menunggu untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Sementara sahabatku, yang semenjak dahulu selalu nampak beruntung, mendapatkan hal serupa dengan demikian mudahnya. Dia bilang, dia bahagia. Dia bahagia. Iri? mungkin iya. Tapi aku ikut berbahagia. Sambil mencoba tuk fokus berada pada track yang kurancang. Seringkali waktu yang hanya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dalam kehidupan. ^^ Dan aku bahagia karena penundaan itu membuatku merasakan keagunganMu. Satu yang pasti,"Man propose, Allah Dispose". Manusia cuma bisa berencana, Allah yang Menentukan....

Sekali baca, Membekas Selamanya

Sebulan terakhir, aku berhenti merecoki sabahat-sahabat yang lokasi kosannya masih dalam jangkauan. Lama-lama gak enak juga kan. Kucarilah alternatif ngisi malem minggu. Ternyata sederhana. Hobi membacaku adalah jawabannya!. Misalnya saja semalam. Tuntas kukhatamkan “Sky Burial” (Pemakaman Langit)-nya Xinran. Sementara minggu lalu, lunas sudah bacaan “Maryamah Karpov”nya Andrea Hirata. Keduanya luar biasa!. Keduanya tentang perjuangan menemukan kembali belahan jiwa. Baca deh!. Sekali baca “membekas” selamanya. Bandingkan dengan membaca buku Faal—ilmu fungsi tubuh (ya iyyalah…^^). Untuk minggu depan, “Muhammad” karya Matin Lings sudah menanti. Baru baca halaman pertamanya aja, aku udah terkesima. Kenapa ya, kalo penulis Barat yang nulis biografi Rosulullah, rasanya lebih “ngena”?. Setahun lalu aku baca “Muhammad Sang Rosul”nya Karen Amstrong, dan sekarang masih terpesona (Pertama tentu sama Rosulullah saw, kedua ama orang-orang di sekitar Rosul, ketiga ama penulisnya deh). Hm, aku su...

Speechless

Hari ini aku merasakan keagunganNya melalui pertolongan-pertolongan yang nggak kebayang bakalan begitu caranya. Mula-mula soal dosen teknik Sipil yang begitu berbaik hati mengijinkan kami uji tes spasial make kelas beliau, bahkan membantu pengkondisian. Ya Allah, gak kebayang jadinya gimana kalo gak dibantu... Kedua soal kemudahan uji rancangan pelatihan. Alhamdulillah banget 6 orang anak BWB (Bem Wanna Be) bersedia bantu. Hasilnya pun sesuai rancangan yang sudah disusun... Ketiga, soal segalanya yang tak terhitung. MIsalnya aja jadi sembuh adri sakit perut abis minum jus jambu. Kalo gak sembuh, gak kebayang gimana bisa meNgaup ama pelatihan??. Duh speechless untuk segalanya hari ini. Padahal semalam segalanya terasa tanpa kepastian, apakah anak2 Sipil 2008 mau ngisi tes yang udah disusun? apa bisa sukses pelaksanaanya?... dan masih banyak pertanyaan?? Aku gak tau bakalan gimana compre (sidang) KAUP ama Pelatihan nanti. Gak tahu juga kemana arah skripsiku. Termasuk gak tahu apa perang...

Indahnya Bersama

Gambar

Innamal`amalu binniyat

Baru aja menemui calon pembimbing skripsi. Siapa sangka dapet tauisyah yang mencerahkan. Beliau bingung dengan judul proposalku yang intinya menghubungkan antara religiusitas dengan orientasi masa depan karir. Beliau bertanya, "apa yang menunjukkan bahwa seseorang Islam?". Aku dengan lugunya jawab, "perilakunya...(islami)". "Lalu bagaimana dengan seseorang yang hidup dengan baik, jujur, dsb. tapi dia lakukan itu demi karirnya semata, bukan karena islam mengajarkan demikian?". Iya juga ya.. Beliau menjawab sekaligus ngasi tausiyah bahwa yang membedakan adalah NIATnya. Sekarang aku baru inget hadist "Innamal`amalu binniyat", amal perbuatan itu tergantung niatnya. Yup! dudulnya aku..alamat ganti variabel pertama (religiusitas). Berhubung sulit juga ngukur niatnya orang berkarir. Saatnya ngubek-ngubek lagi orientasi masa depan.. Semangat!!

Pendarahan psikologis

Kadang perlu juga ngerasain gak dihargai, dikritik, direndahin, dan berbagai perlakuan gak enak secara psikologis. Gara-gara hal seperti itu muncul pertanyaan, apa yang salah dengan diri sendiri? ataukah masalahnya sebenarnya ada pada orang lain. Kalo masalahnya di orang lain, kok kita lemah banget ya diapa-apain pasrah aja?. Bertanya, bertanya, ampe akhirnya nemu insight deh. Baru ntar berubah.. Di buku Dasar-dasar Psikologi Konseling aku baca, katanya klien kudu ngalamin pendarahan psikologis biar sembuh dari masalahnya. Konselor kudu tega membiarkan kliennya "berdarah-darah" lalu menghentikan pendarahan di waktu yang tepat. Kapan itu? ya itu mah urusan konselornya. Yang jelas sih emang bener kalo kudu begitu adanya. Huaa, sedih juga ya, luka psikologis gak keliatan sih.
Oh gak dihargai tuh gak enak ya.